Paus Gelasius I
Gelasius I | |
|---|---|
| Uskup Roma | |
Potret Gelasius I di Biara St. Thomas, Brno, dibuat sekitar tahun 1760 | |
| Gereja | Gereja Katolik |
Awal masa kepausan | 1 Maret 492 |
Akhir masa kepausan | 19 November 496 |
| Pendahulu | Feliks III |
| Penerus | Anastasius II |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Afrika atau Roma, Italia, Kekaisaran Romawi Barat[1] |
| Meninggal | 21 November 496 Roma, Kerajaan Ostrogotik |
| Orang kudus | |
| Hari peringatan | 21 November[2] |
| Paus lainnya yang bernama Gelasius | |
Paus Gelasius I adalah uskup Roma dari tanggal 1 Maret 492 hingga kematiannya pada tanggal 21 November 496.[3] Gelasius adalah seorang penulis produktif yang gaya penulisannya menempatkannya di titik peralihan antara Akhir Zaman Kuno dan Awal Abad Pertengahan.[4] Beberapa cendekiawan berpendapat bahwa pendahulunya Feliks III mungkin telah mempekerjakannya untuk menyusun dokumen kepausan,[5] meskipun hal ini belum pasti.[6][7]
Selama masa kepausannya, ia menyerukan ortodoks Katolik yang ketat, menuntut ketaatan yang lebih tegas kepada otoritas kepausan, dan, akibatnya, meningkatkan ketegangan antara Gereja Barat dan Gereja Timur. Yang mengejutkan, dia juga memiliki hubungan baik dengan Ostrogoth, yang merupakan Arian (yaitu, memiliki pandangan berbeda tentang hakikat Yesus), dan oleh karena itu dianggap sebagai orang-orang sesat dari perspektif Umat Kristen Nicea.[8]
Kehidupan Awal
[sunting | sunting sumber]Gelasius lahir sekitar tahun 410 di wilayah Afrika Utara, yang pada masa itu merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi. Sedikit informasi tersedia mengenai masa mudanya, tetapi ia diduga menerima pendidikan yang sangat baik, terutama dalam bidang teologi, filsafat, dan hukum kanon. Sebelum menjadi Paus, Gelasius dikenal sebagai seorang imam yang saleh dan teolog yang bersemangat dalam membela ajaran Gereja.
Gelasius mulai dikenal dalam hierarki Gereja ketika ia diangkat sebagai sekretaris Paus Simplisius (468–483) dan kemudian melanjutkan pelayanan di bawah Paus Feliks III (483–492). Dalam kapasitas ini, ia memainkan peran penting dalam urusan administrasi Gereja dan penyusunan dokumen teologis.
Kepausan
[sunting | sunting sumber]Masalah Skisma Akasia
[sunting | sunting sumber]Ketika Gelasius menjadi Paus pada tahun 492, Gereja menghadapi tantangan besar akibat Skisma Akasia (Acacian Schism). Konflik ini terjadi karena perbedaan doktrin antara Gereja Barat yang berpusat di Roma dan Gereja Timur yang berpusat di Konstantinopel. Patriark Akasia dari Konstantinopel telah mendukung doktrin Monofisitisme, yang mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu kodrat ilahi. Paus Gelasius menegaskan ajaran Konsili Kalsedon (451) bahwa Kristus memiliki dua kodrat, yaitu ilahi dan manusia, yang bersatu tanpa bercampur.
Gelasius mengutuk Patriark Akasia dan mendukung ekskomunikasi terhadapnya, suatu langkah yang mempertegas otoritas paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja. Meski konflik ini tidak terselesaikan selama masa kepausannya, usaha Gelasius memperlihatkan keberanian dan ketegasan dalam mempertahankan kebenaran iman.
Doktrin Dua Kuasa
[sunting | sunting sumber]Salah satu warisan terpenting dari Gelasius adalah doktrinnya tentang Dua Kuasa (Duo Sunt), yang ia jabarkan dalam surat kepada Kaisar Anastasius I pada tahun 494. Dalam doktrin ini, Gelasius menyatakan bahwa dunia ini diatur oleh dua kuasa utama, yakni kuasa rohani (auctoritas sacrata pontificum) yang dimiliki oleh Gereja dan kuasa duniawi (regalis potestas) yang dimiliki oleh para penguasa sekuler.
Menurut Gelasius, kuasa rohani lebih tinggi daripada kuasa duniawi karena menyangkut keselamatan jiwa manusia. Doktrin ini menjadi dasar bagi hubungan antara Gereja dan negara di dunia Kristen Barat selama berabad-abad berikutnya.
Liturgi dan Kanonisasi Kitab Suci
[sunting | sunting sumber]Gelasius juga berperan penting dalam pembentukan liturgi Gereja. Ia menyusun Sacramentarium Gelasianum, sebuah kumpulan doa dan tata liturgi yang menjadi dasar bagi perkembangan liturgi Romawi. Selain itu, ia mengesahkan kanon Kitab Suci yang sebelumnya telah ditetapkan oleh para pendahulunya, memastikan bahwa tulisan-tulisan yang diterima dalam Gereja benar-benar merupakan firman Allah.
Gelasius dikenal karena menentang pengaruh paganisme yang masih bertahan di Kekaisaran Romawi. Ia mengganti perayaan pagan Lupercalia dengan pesta Hari Santo Valentinus, memperlihatkan usahanya untuk mengkristenkan budaya Romawi.
Wafat dan Kanonisasi
[sunting | sunting sumber]Paus Gelasius I wafat pada tanggal 21 November 496. Ia dimakamkan di Basilika Santo Petrus di Roma. Gereja Katolik menghormatinya sebagai santo, dan hari peringatannya dirayakan setiap tanggal 21 November.
Warisan dan Pengaruh
[sunting | sunting sumber]Gelasius dikenang sebagai seorang pemimpin yang bijaksana dan berani dalam menghadapi tantangan teologis dan politik. Doktrinnya tentang Dua Kuasa menjadi dasar penting dalam hubungan antara Gereja dan negara sepanjang Abad Pertengahan. Ia juga dikenang sebagai seorang reformator liturgi dan pembela ortodoksi iman.
Sebagai seorang teolog dan Paus, Gelasius menunjukkan bagaimana iman yang teguh dan pemikiran yang mendalam dapat membimbing Gereja melewati masa-masa sulit. Dalam kata-kata terakhirnya, ia menegaskan keyakinannya akan kasih karunia Allah yang memimpin Gereja-Nya sepanjang zaman.
| Didahului oleh: Felix III |
Paus 492 – 496 |
Diteruskan oleh: Anastasius II |
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Browne, M. (1998). "The Three African Popes". The Western Journal of Black Studies. 22 (1): 57–8.
- ↑
Herbermann, Charles, ed. (1913). Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. {{cite encyclopedia}}:|title=tidak ada atau kosong - ↑ "Gelasius I". Vatican. Diakses tanggal 10 Mei 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ The title of his biography by Walter Ullmann expresses this:Gelasius I. (492–496): Das Papsttum an der Wende der Spätantike zum Mittelalter (Stuttgart) 1981.
- ↑ Ullmann, Walter (1981). Gelasius I. (492-496) : das Papsttum an der Wende der Spätantike zum Mittelalter. Hiersemann. hlm. 135–141. ISBN 3-7772-8135-2. OCLC 781406544.
- ↑ Salzman, Michele Renee (2019). "Lay Aristocrats and Ecclesiastical Politics: A New View of the Papacy of Felix III (483–492 C.E.) and the Acacian Schism". Journal of Early Christian Studies. 27 (3): 482, n. 73. doi:10.1353/earl.2019.0040. ISSN 1086-3184. S2CID 204419785.
- ↑ Cohen, Samuel (2019). ""You have made common cause with their persecutors": Gelasius, the language of persecution, and the Acacian Schism". Dalam Fournier, Éric; Mayer, Wendy (ed.). Heirs of Roman persecution: studies on a Christian and para-Christian discourse in late antiquity. Routledge. hlm. 176, n. 16. ISBN 978-0-8153-7512-8. OCLC 1114273480.
- ↑ Cohen, Samuel (2022). "Gelasius and the Ostrogoths: jurisdiction and religious community in late fifth-century Italy". Early Medieval Europe (dalam bahasa Inggris). 30 (1): 22–23. doi:10.1111/emed.12519. ISSN 0963-9462. S2CID 247674196.
- Browne, M. (1998). "The Three African Popes". The Western Journal of Black Studies. 22 (1): 57–8.
- Herbermann, Charles, ed. (1913). "Pope St. Gelasius I" . Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company.
- The title of his biography by Walter Ullmann expresses this:Gelasius I. (492–496): Das Papsttum an der Wende der Spätantike zum Mittelalter (Stuttgart) 1981.
- Ullmann, Walter (1981). Gelasius I. (492-496) : das Papsttum an der Wende der Spätantike zum Mittelalter. Hiersemann. pp. 135–141. ISBN 3-7772-8135-2. OCLC 781406544.
- Salzman, Michele Renee (2019). "Lay Aristocrats and Ecclesiastical Politics: A New View of the Papacy of Felix III (483–492 C.E.) and the Acacian Schism". Journal of Early Christian Studies. 27 (3): 482, n. 73. doi:10.1353/earl.2019.0040. ISSN 1086-3184. S2CID 204419785.