Kesultanan Langkat
Negeri Kesultanan Langkat كسولتانن لڠکت | |||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1568–1946 | |||||||||||
Wilayah Kesultanan Langkat dan beberapa kerajaan Melayu di Sumatra Timur pada 1930 | |||||||||||
| Ibu kota | Tanjung Pura | ||||||||||
| Bahasa umum | Melayu | ||||||||||
| Agama | Islam (resmi) | ||||||||||
| Pemerintahan | Monarki Kesultanan | ||||||||||
| Sultan | |||||||||||
• 1568–1580 | Dewa Syahdan (Sibayak Si Pinter Ukum) | ||||||||||
• 1580–1612 | Dewa Sakti (Sultan Husin) | ||||||||||
• 1612–1673 | Raja Kahar bin Dewa Sakti | ||||||||||
• 1673–1750 | Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar | ||||||||||
• 1750–1818 | Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman | ||||||||||
• 1818–1840 | Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu | ||||||||||
• 1840–1893 | Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) | ||||||||||
• 1893–1927 | Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah | ||||||||||
• 1927–1948 | Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah | ||||||||||
• 1948–1990 | Tengku Atha'ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah | ||||||||||
• 1990–1999 | Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah | ||||||||||
• 1999–2001 | Tengku Dr. Herman Shah bin Tengku Kamil | ||||||||||
• 2001–2003 | Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Murad Aziz | ||||||||||
• 2003–2026 | Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Maimun | ||||||||||
• 2026–sekarang | Tuanku Sultan Ariefanda Abdul Djalil Rahmadshah | ||||||||||
| Sejarah | |||||||||||
• Didirikan | 1568 | ||||||||||
• Bergabung dengan Indonesia | 1945 | ||||||||||
| 1946 | |||||||||||
| |||||||||||
Kesultanan Langkat adalah sebuah kerajaan di wilayah Sumatra Timur.[1]
Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.
Kekuasaan politik Kesultanan Langkat berakhir pada masa pergolakan sosial di Sumatra Timur pada pertengahan abad ke-20. Setelah itu, penerus Kesultanan Langkat terutama menjalankan kedudukan sebagai pemangku adat dan kepala keluarga kerajaan.[2]

Pada 2026, Tuanku Sultan Ariefanda Abdul Djalil Rahmadshah didaulat sebagai Sultan Langkat XV setelah wafatnya ayahandanya, Sultan Langkat XIV Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah.[3]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Pendirian
[sunting | sunting sumber]Kesultanan Langkat merupakan salah satu monarki Melayu tua di wilayah Sumatera Timur.
Pada tahun 1568, di wilayah yang kini disebut Hamparan Perak, salah seorang petinggi Kerajaan Aru yang bernama Dewa Shahdan berhasil menyelamatkan diri dari serangan Kesultanan Aceh dan mendirikan sebuah kerajaan. Kerajaan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Langkat.
Nama Langkat berasal dari nama sebuah pohon dari famili Meliaceae yang menyerupai pohon langsat. Pohon langkat memiliki buah yang lebih besar daripada buah langsat tetapi lebih kecil daripada buah duku. Rasanya pahit dan kelat.[4]
Pohon tersebut dahulu banyak dijumpai di tepian Sungai Langkat, yakni di hilir Sungai Batang Serangan yang mengaliri kota Tanjung Pura. Pohon tersebut kini sudah jarang dijumpai.
Pengganti Dewa Shahdan, Dewa Sakti, meninggal dalam serangan yang kembali dilakukan oleh Kesultanan Aceh pada tahun 1612.
Pada masa kepemimpinan Raja Kejuruan Hitam (1750–1818), Langkat menghadapi berbagai pergolakan dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Pada abad ke-19, Kesultanan Langkat kemudian berhubungan dengan Kesultanan Siak, Kesultanan Aceh, serta pemerintah Hindia Belanda.
Pada 1869, Langkat menandatangani perjanjian dengan pihak Hindia Belanda. Raja Langkat kemudian diakui menggunakan gelar Sultan pada akhir abad ke-19.
Masa kolonial
[sunting | sunting sumber]

Pada masa pemerintahan Sultan Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah, seorang administrator Belanda bernama Aeilko Zijlker dari Deli Maatschappij memperoleh konsesi minyak bumi di Telaga Said, Pangkalan Brandan.
Konsesi eksploitasi minyak bumi diberikan oleh Sultan pada tahun 1883. Beberapa tahun kemudian dilakukan pengeboran minyak, dan pada tahun 1892 kegiatan produksi minyak mulai berkembang.
Penemuan ladang minyak menjadikan Kesultanan Langkat memperoleh pemasukan yang besar dari kegiatan eksploitasi minyak. Bersama beberapa kesultanan lain di Nusantara, Langkat berkembang menjadi salah satu kerajaan yang makmur pada masa Hindia Belanda.
Salah satu peninggalan Kesultanan Langkat yang masih dapat disaksikan hingga sekarang adalah Masjid Azizi di Tanjung Pura.[5]
Pada tahun 1907, Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah menandatangani kontrak politik dengan pemerintah Hindia Belanda yang diwakili oleh Jacob Ballot selaku Residen van Sumatra Oostkust.
Dalam perjanjian tersebut, batas wilayah Kesultanan Langkat meliputi Pulau Kumpei, Pulau Sembilan, Tapak Kuda, Pulau Masjid dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, Kejuruan Stabat, Kejuruan Bingei (Binjai), Kejuruan Selesai, Kejuruan Bahorok, daerah Datu Lepan, serta daerah Datu Besitang.
Wilayah Langkat secara administratif dibagi menjadi tiga bagian:
- Langkat Hulu
- Langkat Hilir
- Teluk Haru
Pada bulan November 1926, Sultan Ahmad Sulaimanuddin dari Kesultanan Bulungan menikah dengan putri Sultan Abdul Aziz, Tengku Lailan Syafinah. Arsip masa kolonial juga mencatat rangkaian acara pernikahan tersebut di Tanjung Pura.
Masa pendudukan Jepang
[sunting | sunting sumber]Pada masa Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, tentara Kekaisaran Jepang masuk ke Sumatra setelah mundurnya pemerintahan Hindia Belanda.
Pendudukan Jepang membawa perubahan besar terhadap keadaan sosial dan ekonomi masyarakat Langkat hingga berakhirnya Perang Dunia II.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan
[sunting | sunting sumber]
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, situasi politik di Sumatra Timur mengalami perubahan besar.
Pada 5 Oktober 1945, Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah menyatakan bergabungnya Kesultanan Langkat dengan Republik Indonesia.
Pada tanggal 29 Oktober 1945, Tengku Amir Hamzah diangkat menjadi Asisten Residen Langkat dan berkedudukan di Binjai oleh Gubernur Sumatra, Teuku Muhammad Hasan.
Kekuasaan Kesultanan Langkat dalam bidang politik dan pemerintahan berakhir bersamaan dengan pergolakan Revolusi Sosial Sumatra Timur pada tahun 1946.
Sejumlah anggota keluarga Kesultanan Langkat menjadi korban dalam peristiwa tersebut, termasuk Tengku Amir Hamzah.[6]
Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah kemudian kehilangan kekuasaan pemerintahannya. Setelah Sultan Mahmud wafat pada tahun 1948, penerus Kesultanan Langkat tidak lagi menjalankan pemerintahan sebagai negara dan terutama berperan sebagai pemangku adat serta kepala keluarga kerajaan.[2]
Daftar penguasa
[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah urutan raja, sultan, dan penerus kepemimpinan adat Kesultanan Langkat.[7][8][9][10][2]
- Panglima Dewa Shahdan — 1568–1580
- Panglima Dewa Sakti — 1580–1612, anak Dewa Shahdan
- Raja Kahar bin Panglima Dewa Sakti — 1612–1673
- Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar — 1673–1750
- Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman — 1750–1818
- Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu — 1818–1840
- Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) bin Raja Ahmad — 1840–1893
- Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah bin Sultan Haji Musa — 1893–1927
- Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah bin Sultan Abdul Aziz — 1927–1948
- Tengku Atha'ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah — 1948–1990, pemimpin keluarga kerajaan setelah berakhirnya kekuasaan politik kesultanan
- Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah — 1990–1999
- Tengku Dr. Herman Shah bin Tengku Kamil — 1999–2001
- Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Murad Aziz — 2001–2003
- Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Maimun — 2003–2026, Sultan Langkat XIV[3]
- Tuanku Sultan Ariefanda Abdul Djalil Rahmadshah — 2026–sekarang, putra Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah dan Sultan Langkat XV.[3]
Sebelum menjadi Sultan Langkat XV, Ariefanda telah disebut sebagai Putra Mahkota Kesultanan Langkat dalam kegiatan resmi bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2022.[11]
Ariefanda didaulat sebagai Sultan Langkat XV pada 12 Mei 2026 setelah wafatnya ayahandanya, Sultan Langkat XIV Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah.[3]
Dalam pemberitaan setelah pendaulatannya, Tuanku Ariefanda juga disebut sebagai Sultan Negeri Langkat dalam kegiatan kebudayaan dan hubungan dengan pemerintah daerah.[12]

Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Sri Windari; Halimah Nur Febriyani; Nafita Amelia Nur Hanifah; Muhammad Ilham Aziz; Septi Wanda; Johan Septian Putra; Arindya Iryana Putri; Wibowo Priambodo; Thoha Ulil Albab; Syfana Amalena; Dewi Oktaviani; Ahmad Zainuri; Fika Hasya Lisyanti; Nadia Peggy Despy; Wela Celsi Angela (15 November 2021). Sujadi (ed.). Islam Lokal: Sejarah, Budaya, dan Masyarakat. Adab Press. hlm. 46. ISBN 9789798548215.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Subroto, Lukman Hadi; Ningsih, Widya Lestari (26 Januari 2022). "Kesultanan Langkat: Sejarah, Perkembangan, dan Raja-raja". Kompas.com.
{{cite web}}:|url=tidak ada atau kosong - 1 2 3 4 Gunawan, Apriadi (15 Mei 2026). "New Langkat sultan vows to continue sultanate's legacy". The Jakarta Post.
- ↑ Husin, Djohar Arifin (2023). Sejarah Kesultanan Langkat. Medan: Yayasan Bangun Langkat Sejahtera.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Dahlan, Zaini; Asari, Hasan (2020-12-31). "Sejarah Keagamaan Dan Sosial Masjid-Masjid Tua Di Langkat". Jurnal Lektur Keagamaan (dalam bahasa Inggris). 18 (2): 333–364. doi:10.31291/jlka.v18i2.850. ISSN 2620-522X.
- ↑ Zuhra, Wan Ulfa Nur. "Pembunuhan Amir Hamzah dan Sejarah Revolusi Sosial di Sumatra Timur". tirto.id. Diakses tanggal 2026-07-29.
- ↑ Genealogi Kesultanan Langkat bagian 2
- ↑ Genealogi Kesultanan Langkat bagian 3
- ↑ Genealogi Kesultanan Langkat bagian 4
- ↑ Genealogi Kesultanan Langkat bagian 5
- ↑ "Gubernur Edy Rahmayadi Ziarah ke Pusara Pahlawan Tengku Amir Hamzah". Diskominfo Provinsi Sumatera Utara. 20 Maret 2022.
{{cite web}}:|url=tidak ada atau kosong - ↑ "Amir Hamzah dan Kesultanan Langkat Sepakat Perkuat Budaya Melayu di Kota Binjai". Waspada. 24 Agustus 2026.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Indonesia) Aru Dahulu, Langkat Kemudian Diarsipkan 2011-06-16 di Wayback Machine
- (Indonesia) Sultan van Langkat
- (Inggris) Halaman Royal Ark tentang Kerajaan Langkat
- (Inggris) Kesultanan Langkat di University of Queensland