Lompat ke isi

Kesultanan Langkat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Negeri Kesultanan Langkat
كسولتانن لڠکت
1568–1946
Bendera Kesultanan Langkat
Bendera
Lambang Kesultanan Langkat
Lambang
Wilayah Kesultanan Langkat dan beberapa kerajaan Melayu di Sumatra Timur pada 1930
Wilayah Kesultanan Langkat dan beberapa kerajaan Melayu di Sumatra Timur pada 1930
Ibu kotaTanjung Pura
Bahasa umumMelayu
Agama
Islam (resmi)
PemerintahanMonarki Kesultanan
Sultan 
• 1568–1580
Dewa Syahdan (Sibayak Si Pinter Ukum)
• 1580–1612
Dewa Sakti (Sultan Husin)
• 1612–1673
Raja Kahar bin Dewa Sakti
• 1673–1750
Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar
• 1750–1818
Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman
• 1818–1840
Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu
• 1840–1893
Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah)
• 1893–1927
Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah
• 1927–1948
Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah
• 1948–1990
Tengku Atha'ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah
• 1990–1999
Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah
• 1999–2001
Tengku Dr. Herman Shah bin Tengku Kamil
• 2001–2003
Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Murad Aziz
• 2003–2026
Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Maimun
• 2026–sekarang
Tuanku Sultan Ariefanda Abdul Djalil Rahmadshah
Sejarah 
• Didirikan
1568
• Bergabung dengan Indonesia
1945
1946
Didahului oleh
Digantikan oleh
kslKesultanan
Aceh
Negara Sumatra Timur
Provinsi Sumatera Utara

Kesultanan Langkat adalah sebuah kerajaan di wilayah Sumatra Timur.[1]

Kesultanan Langkat menjadi makmur karena dibukanya perkebunan karet dan ditemukannya cadangan minyak di Pangkalan Brandan.

Kekuasaan politik Kesultanan Langkat berakhir pada masa pergolakan sosial di Sumatra Timur pada pertengahan abad ke-20. Setelah itu, penerus Kesultanan Langkat terutama menjalankan kedudukan sebagai pemangku adat dan kepala keluarga kerajaan.[2]

Tuanku Sultan Ariefanda Abdul Djalil Rahmadshah, Sultan Langkat XV.

Pada 2026, Tuanku Sultan Ariefanda Abdul Djalil Rahmadshah didaulat sebagai Sultan Langkat XV setelah wafatnya ayahandanya, Sultan Langkat XIV Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah.[3]

Pendirian

[sunting | sunting sumber]

Kesultanan Langkat merupakan salah satu monarki Melayu tua di wilayah Sumatera Timur.

Pada tahun 1568, di wilayah yang kini disebut Hamparan Perak, salah seorang petinggi Kerajaan Aru yang bernama Dewa Shahdan berhasil menyelamatkan diri dari serangan Kesultanan Aceh dan mendirikan sebuah kerajaan. Kerajaan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Langkat.

Nama Langkat berasal dari nama sebuah pohon dari famili Meliaceae yang menyerupai pohon langsat. Pohon langkat memiliki buah yang lebih besar daripada buah langsat tetapi lebih kecil daripada buah duku. Rasanya pahit dan kelat.[4]

Pohon tersebut dahulu banyak dijumpai di tepian Sungai Langkat, yakni di hilir Sungai Batang Serangan yang mengaliri kota Tanjung Pura. Pohon tersebut kini sudah jarang dijumpai.

Pengganti Dewa Shahdan, Dewa Sakti, meninggal dalam serangan yang kembali dilakukan oleh Kesultanan Aceh pada tahun 1612.

Pada masa kepemimpinan Raja Kejuruan Hitam (1750–1818), Langkat menghadapi berbagai pergolakan dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Pada abad ke-19, Kesultanan Langkat kemudian berhubungan dengan Kesultanan Siak, Kesultanan Aceh, serta pemerintah Hindia Belanda.

Pada 1869, Langkat menandatangani perjanjian dengan pihak Hindia Belanda. Raja Langkat kemudian diakui menggunakan gelar Sultan pada akhir abad ke-19.

Masa kolonial

[sunting | sunting sumber]
Istana Darul Aman di Tanjung Pura, sekitar tahun 1920.
Tarian adat Karo yang dipersembahkan ketika pesta pernikahan Sultan Ahmad Sulaimanuddin dari Kesultanan Bulungan dengan putri Sultan Abdul Aziz, Tengku Lailan Syafinah, pada tahun 1926.

Pada masa pemerintahan Sultan Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah, seorang administrator Belanda bernama Aeilko Zijlker dari Deli Maatschappij memperoleh konsesi minyak bumi di Telaga Said, Pangkalan Brandan.

Konsesi eksploitasi minyak bumi diberikan oleh Sultan pada tahun 1883. Beberapa tahun kemudian dilakukan pengeboran minyak, dan pada tahun 1892 kegiatan produksi minyak mulai berkembang.

Penemuan ladang minyak menjadikan Kesultanan Langkat memperoleh pemasukan yang besar dari kegiatan eksploitasi minyak. Bersama beberapa kesultanan lain di Nusantara, Langkat berkembang menjadi salah satu kerajaan yang makmur pada masa Hindia Belanda.

Salah satu peninggalan Kesultanan Langkat yang masih dapat disaksikan hingga sekarang adalah Masjid Azizi di Tanjung Pura.[5]

Pada tahun 1907, Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah menandatangani kontrak politik dengan pemerintah Hindia Belanda yang diwakili oleh Jacob Ballot selaku Residen van Sumatra Oostkust.

Dalam perjanjian tersebut, batas wilayah Kesultanan Langkat meliputi Pulau Kumpei, Pulau Sembilan, Tapak Kuda, Pulau Masjid dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, Kejuruan Stabat, Kejuruan Bingei (Binjai), Kejuruan Selesai, Kejuruan Bahorok, daerah Datu Lepan, serta daerah Datu Besitang.

Wilayah Langkat secara administratif dibagi menjadi tiga bagian:

  • Langkat Hulu
  • Langkat Hilir
  • Teluk Haru

Pada bulan November 1926, Sultan Ahmad Sulaimanuddin dari Kesultanan Bulungan menikah dengan putri Sultan Abdul Aziz, Tengku Lailan Syafinah. Arsip masa kolonial juga mencatat rangkaian acara pernikahan tersebut di Tanjung Pura.

Masa pendudukan Jepang

[sunting | sunting sumber]

Pada masa Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, tentara Kekaisaran Jepang masuk ke Sumatra setelah mundurnya pemerintahan Hindia Belanda.

Pendudukan Jepang membawa perubahan besar terhadap keadaan sosial dan ekonomi masyarakat Langkat hingga berakhirnya Perang Dunia II.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan

[sunting | sunting sumber]
Lihat: Revolusi Sosial Sumatra Timur
Tengku Amir Hamzah, sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru dan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, situasi politik di Sumatra Timur mengalami perubahan besar.

Pada 5 Oktober 1945, Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah menyatakan bergabungnya Kesultanan Langkat dengan Republik Indonesia.

Pada tanggal 29 Oktober 1945, Tengku Amir Hamzah diangkat menjadi Asisten Residen Langkat dan berkedudukan di Binjai oleh Gubernur Sumatra, Teuku Muhammad Hasan.

Kekuasaan Kesultanan Langkat dalam bidang politik dan pemerintahan berakhir bersamaan dengan pergolakan Revolusi Sosial Sumatra Timur pada tahun 1946.

Sejumlah anggota keluarga Kesultanan Langkat menjadi korban dalam peristiwa tersebut, termasuk Tengku Amir Hamzah.[6]

Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah kemudian kehilangan kekuasaan pemerintahannya. Setelah Sultan Mahmud wafat pada tahun 1948, penerus Kesultanan Langkat tidak lagi menjalankan pemerintahan sebagai negara dan terutama berperan sebagai pemangku adat serta kepala keluarga kerajaan.[2]

Daftar penguasa

[sunting | sunting sumber]
Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah (memerintah 1893–1927).
Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Maimun, Sultan Langkat XIV.

Berikut adalah urutan raja, sultan, dan penerus kepemimpinan adat Kesultanan Langkat.[7][8][9][10][2]

  1. Panglima Dewa Shahdan — 1568–1580
  2. Panglima Dewa Sakti — 1580–1612, anak Dewa Shahdan
  3. Raja Kahar bin Panglima Dewa Sakti — 1612–1673
  4. Bendahara Raja Badiuzzaman bin Raja Kahar — 1673–1750
  5. Raja Kejuruan Hitam (Tuah Hitam) bin Bendahara Raja Badiuzzaman — 1750–1818
  6. Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu — 1818–1840
  7. Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) bin Raja Ahmad — 1840–1893
  8. Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah bin Sultan Haji Musa — 1893–1927
  9. Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah bin Sultan Abdul Aziz — 1927–1948
  10. Tengku Atha'ar bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah — 1948–1990, pemimpin keluarga kerajaan setelah berakhirnya kekuasaan politik kesultanan
  11. Tengku Mustafa Kamal Pasha bin Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah — 1990–1999
  12. Tengku Dr. Herman Shah bin Tengku Kamil — 1999–2001
  13. Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Murad Aziz — 2001–2003
  14. Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah al-Haj bin Tengku Maimun — 2003–2026, Sultan Langkat XIV[3]
  15. Tuanku Sultan Ariefanda Abdul Djalil Rahmadshah — 2026–sekarang, putra Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah dan Sultan Langkat XV.[3]

Sebelum menjadi Sultan Langkat XV, Ariefanda telah disebut sebagai Putra Mahkota Kesultanan Langkat dalam kegiatan resmi bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2022.[11]

Ariefanda didaulat sebagai Sultan Langkat XV pada 12 Mei 2026 setelah wafatnya ayahandanya, Sultan Langkat XIV Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah.[3]

Dalam pemberitaan setelah pendaulatannya, Tuanku Ariefanda juga disebut sebagai Sultan Negeri Langkat dalam kegiatan kebudayaan dan hubungan dengan pemerintah daerah.[12]

Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah bin Sultan Abdul Aziz, memerintah 1927–1948.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
Tengku Amir Hamzah dan istrinya, Tengku Kamaliah binti Sultan Mahmud.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ↑ Sri Windari; Halimah Nur Febriyani; Nafita Amelia Nur Hanifah; Muhammad Ilham Aziz; Septi Wanda; Johan Septian Putra; Arindya Iryana Putri; Wibowo Priambodo; Thoha Ulil Albab; Syfana Amalena; Dewi Oktaviani; Ahmad Zainuri; Fika Hasya Lisyanti; Nadia Peggy Despy; Wela Celsi Angela (15 November 2021). Sujadi (ed.). Islam Lokal: Sejarah, Budaya, dan Masyarakat. Adab Press. hlm. 46. ISBN 9789798548215.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 Subroto, Lukman Hadi; Ningsih, Widya Lestari (26 Januari 2022). "Kesultanan Langkat: Sejarah, Perkembangan, dan Raja-raja". Kompas.com. {{cite web}}: |url= tidak ada atau kosong
  3. 1 2 3 4 Gunawan, Apriadi (15 Mei 2026). "New Langkat sultan vows to continue sultanate's legacy". The Jakarta Post.
  4. ↑ Husin, Djohar Arifin (2023). Sejarah Kesultanan Langkat. Medan: Yayasan Bangun Langkat Sejahtera.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Dahlan, Zaini; Asari, Hasan (2020-12-31). "Sejarah Keagamaan Dan Sosial Masjid-Masjid Tua Di Langkat". Jurnal Lektur Keagamaan (dalam bahasa Inggris). 18 (2): 333–364. doi:10.31291/jlka.v18i2.850. ISSN 2620-522X.
  6. ↑ Zuhra, Wan Ulfa Nur. "Pembunuhan Amir Hamzah dan Sejarah Revolusi Sosial di Sumatra Timur". tirto.id. Diakses tanggal 2026-07-29.
  7. ↑ Genealogi Kesultanan Langkat bagian 2
  8. ↑ Genealogi Kesultanan Langkat bagian 3
  9. ↑ Genealogi Kesultanan Langkat bagian 4
  10. ↑ Genealogi Kesultanan Langkat bagian 5
  11. ↑ "Gubernur Edy Rahmayadi Ziarah ke Pusara Pahlawan Tengku Amir Hamzah". Diskominfo Provinsi Sumatera Utara. 20 Maret 2022. {{cite web}}: |url= tidak ada atau kosong
  12. ↑ "Amir Hamzah dan Kesultanan Langkat Sepakat Perkuat Budaya Melayu di Kota Binjai". Waspada. 24 Agustus 2026.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]